SABAR

February 23rd, 2012, posted in Tak Berkategori

Ini kata yang murahan (sangkin seringnya didengar), tapi “sukarnya” luar biasa.

Semakin kupikir pikir, kurenung-renung, kurasa-rasa, ternyata SABAR ini bukan sekedar komat kamit mengelus dada, ketika menghadapi jalan di Jakarta yang makin kusut.  SE-kusut rambut gimbal gembel gembel dikolong jembatan, atau SE-kusut raut wajah presidenku yang lagi pidato didepan tokoh tokoh agama semalam.

SABAR bukan sekedar kata diucapkan buat menghibur orang yang lagi kemalangan.

SABAR ini ternyata paling BESAR kuasanya ketika dikatakan pada DIRI SENDIRI, dan bukan pada orang lain. (Jangan katakan ”sabar” pada orang yang emosinya sedang dipuncak, karena cuma membuatmu seperti pahlawan kesiangan, atau seperti pe-basa-basi yang tidak bisa menemukan kata kata bijak lain yang lebih susah!Atau lebih ngeri lagi, dianggap ngga bisa merasakan kepedihan orang lain).

*

Sebuah literature mencatat:

’Patience is the state of endurance under difficult circumstances, which can mean persevering in the face of delay or provocation without acting on annoyance/anger in a negative way; or exhibiting forbearance when under strain, especially when faced with longer term difficulties.’

Aku suka frase “in the face of…..provocation” itu.

Pada literature yang sama ada miniature lukisan bertitel ‘Patience’ yang dibuat oleh Hans Beham (1540).

Digambarkan sesosok manusia bersayap, tengah memeluk seekor domba tak berdaya. Tapi sidomba tampak tenang, teduh, dalam pelukan Sang Manusia bersayap. Disebelahnya iblis, dengan raut mu-peng dan ngeces siap siap melahap sidomba. Diatas tampak dua malaekat kecil (mirip cupid) memegang mahkota bertuliskan ‘P a c i e n t i a’.

Dan, memang, P a c i e n t i a identik dengan ketenangan, sekalipun dalam situasi yang sangat tidak menenangkan.

*

Aku punya cara buat memanggil si Sabar ini.

Cara ini pertama tama kulakukan diumur 15-an, karena diusia itulah aku pertama kali harus meninggalkan rumah ber-ribu mil jauhnya dan merasakan harus menata diri, diatas kaki sendiri (bahasa kerennya: merantau!). Dan,kemudian, kudapati bahwa terlalu banyak hal hal yang tidak bisa dimengerti oleh anak umur 15-an, dimasa itu  (anak 15-an sekarang, uda tuwir tuwir kayanya)

Dalam kesesakan, dan ketidakmengertian, ini yang selalu kulakukan sejak 23 tahun yang lalu: Menutup Mata, dan Menarik Napas. - Don’t know why, but it (most of the time) works for me.

Penjelasannya kurasa ngga susah. Menutup mata adalah tindakan simbolik menjauhkan diri dari hal hal provokatif yang ada disekitar kita. (Dan terbukti ada banyak hal provokatif yang bisa dihindari dengan ‘tidak melihat sesuatu’. BANYAK sekali. Tulisan2 yang provokatif misalnya entah itu dikoran,web,fb,BB,emai atau foto/gambar/wajah/dll yang mengundang amarah)

Menarik nafas?

Aku punya penjelasan sendiri, yang mungkin agak terdengar bodoh.

Aku percaya nafasku adalah Roh Tuhan. (He breathed into my nostrils the breath of life, and I became a living soul). Dan ketika aku menutup mata dan menarik nafas dalam dalam…begitu dalam menembus paru paru hingga masuk jauh kedalam jiwa, aku merasa seperti menyerap lebih banyak lagi Roh Tuhan; melipatgandakan my level of endurance, my level of patience.

*

That literature also state that: patience is the level of endurance one’s character can take before negativity. It is also used to refer to the character trait of being steadfast, or whicy you can wait for things.

(end)

SHEILA MARCIA

September 9th, 2009, posted in Tak Berkategori

Bocah ini……
I do pity her.
But i learn something from her also

Jangan jadikan Tuhan sebagai (sekedar) pelarian ketika masalah datang.
Karena pelarian selalu cuma jadi cinta sesaat;
yang di-puja dan di-agungkan tidak untuk waktu yang lama.
Lalu ketika kesenangan datang, DIA tak lebih dari “Kekasih gelap”

Jangan pernah menempatkan Tuhan dalam Gelap, karena itu terlalu menyakitkan.

*
Bocah ini,
she reminds me, that sometimes i treat God the same way.

So,
Sheila Marcia,
ketika sebagian orang memojokkan dia krn mempermalukan agama,
I wanna thank her, personally….
for reminding me on such an important question: “how deep is my love to God”.
– do I love Him, for better or worst –

Be strong, bocah manis,
Hanya yang tak berdosa yang layak melemparimu dengan batu

(febs)

Manohara dan Harga Diri Bangsa

June 1st, 2009, posted in Tak Berkategori

I Assume Manohara tell the truth tonight, on Tv.

Maka:

- Malunyaaa gueeeee sebagai orang Indonesia. Koq bisa US Embassy yang turun tangan menolong perempuan ini keluar dari tangan para penjahat kelamin kerajaan kelantan itu. Sementara dubes Ri di Malaysia, ternyataaa oh ternyataaa…….waktu bbrp waktu lalu bilang Manohara baek2 saja, bla bla bla….hanya statement karangan dan pesanan saja. ck ck ck. Pantesan TKI Indo di Mal banyak yang dihina dina gitu ya di Malaysia, lha wong orang dan orang orang, yang seharusnya melindungi mereka, do not do their job as they MUST. Di tutup aja kali tuh kbri ya?

- Salut buat maknya Manohara. Maap bu……untuk beberapa waktu lamanya, gue ke-makan ama berita2/obrolan2 di media2 bahwa ibu hanya mengarang2 cerita saja. Plus foto2 ibu lagi berdugem2 ria dengan berondong……..bener2 memperkuat image negatip ibu. Ternyata (walopun foto2 itu benar adanya) at the end, adalah seorang ibu yang mau mati-matian  membela kepentingan seorang Manohara…

- really F*****G Fed up dengan negara tetangga yang satu ini!!!!!!udah tukang catut budaya, rasis pula sama orang Indonesia, suka ngembat2 pulau lah………psikopat pula lagi. Amit2.

- Salut buat US Embassy. Walopun kedubesnya di Jakarta suka di demo orang2 ( he he he),  - benderanya pun suka diinjak-injak/dibakar pula sama orang-orang aneh yang salah satu hobi-nya adalah demo&marah2 di depan US embassy -  ternyata ngga dendam sama orang Indonesia. Makasih..makasih ya cuy.

Megawati Yang Berubah

February 17th, 2009, posted in Political View

Megawati di O Channel beberapa hari lalu.

Saya bukan pendukung Megawati. Ada beberapa alasan untuk itu. Alasan prinsipil adalah karena waktu tahun 1997-1999-an dulu, waktu saya masih wartawan di Majalah Mingguan D&R, saya pernah beberapa kali harus mewawancarai MSP…..dan dari situ saya memutuskan, She’s not my type of President. At least not somebody with a character, that I’m going to be proudly announce as my president, someday, somewhere. Alasan kedua, tentu saja lebih objektif yang sifatnya politis terkait PDI-Perjuangan sebagai sebuah organisasi.

Tapi, senin malam lalu itu, MSP menurut kata hati saya, mulai berubah; walau masih belum memenuhi kriteria saya sebagai - maaf - Presiden Idaman!

MSP lebih “kuat” — dalam arti lebih matang dalam menjabarkan beberapa hal (baca pertanyaan) dari Rosiana Silalahi yang MUNGKIN 5 tahun lalu – atau lebih – akan dijawabnya dengan ancur ancuran.

Mudah mudahan MSP akan lebih matang lagi dalam beberapa bulan kedepan.Agar pertarungan dilevel presidentil nanti lebih berbobot. Bukan perang dukungan, sindiran, tapi PEMIKIRAN, KONSEP dan ARGUMEN.

Walaupun saya bukan pendukungnya, justru caleg dari partai lawannya…..tapi saya bukan orang berkacamata kuda. Saya percaya semua orang berhak untuk memberikan yang terbaik bagi Bangsanya….. Dan biar Tuhan saja yang menilai isi hatinya.

Presidenku Suka Curhat

February 11th, 2009, posted in Political View

Gak ada yang salah sih dengan curhat.

Ada 2 hal yang terjadi ketika proses curhat terjadi:

1. Yang curhat akan merasa lebih lega. Jelas lah, curhat is about sharing burden. Beban kalo dibagi ke ‘lebih banyak’ orang, pasti rasanya jadi lebih ringan. Hukum fisika sudah membuktikan ini dengan sangat TEPAT.

2. Yang di CURHATI, ada dua kemungkinan:

- menjadi subjektif. Dalam arti dia akan cenderung lebih memihak kepada orang yang curhat, dibanding “subjek pelaku” yang telah membuat si pencurhat, merasa tidak enak (dan kemudian curhat) . Ini lazim terjadi. Coba saja review isi pikiran Anda ketika, MISALNYA, teman cerita bagaimana dia dimaki-maki bosnya. Anda pasti ikut membenci si bos, walaupun Anda mungkin belum mendengar versi lengkap kenapa dia dimaki.

- menambah beban orang yang dicurhati. YA IYA LAH. Beban akan kan sedikit tertambah, karena kepikiiran (walaupun mungkin ga kepikiran banget2) cerita si pencurhat.

NAH, dari poin poin diatas, jelas bahwa proses curhat TIDAK BOLEH SEMBARANGAN diluapkan. Ada pertimbangan ketika anda memilih kepada SIAPA anda curhat. Karena selalu ADA EFEK dari setiap CURHAT>

*

Lalu, BAGAIMANA kalau presiden suka curhat kepada rakyat?

Tolong dipertimbankan hal hal ini:

1. Patutkah masalah kelompok (partai) dijadikan curhatan NASIONAL?

2. Patutkah kegundahan hati (pribadi) dijadikan curhatan NASIONAL?

3. Pertanyaan #1 dan #2 ga usah dijawab, KALAU, kegiatan curhat NASIONAL ini is done on purpose. Ada kamsut, eh maksudnya. Tujuannya. Tujuanya opo? ya ora mudeng aku….mungkin mendapatkan subjektivitas publik….namanye juga mo pemilu.

Memoar 10 Tahun

February 6th, 2009, posted in Tak Berkategori

Hari Ini, 10 Tahun Yang Lalu

6 Febuary 1999

Majalah D&R, tempat ku kerja itu, siap siap gulung tikar. Alasannya jelas, sang pesaing utama yakni Majalah XX telah terbit kembali paska reformasi. Secara bisnis, pemasukan seret. Udah beberapa hari kerja On-Off. Dikantor lebih banyak ngomongin nasib wartawan yang bakal ter-PHK. Tanda-tandanya jelas: gaji mulai tak terbayar penuh. Ada 1001 alasan untuk MEMOTONG gaji yang jumlahnya sebenarnya tak seberapa itu: Rp. 960.000-an saja.

Serba salah.

Kerja jadi males.

Pulang ke kost males.

*

Ini bukan kamar yang layak, karena dia memang gudang. Gudang yang diubah jadi kamar karena aku ga sanggup bayar kamarnya yang laen. Lokasinya uda pas. Dijalan Wijaya XIV no.YY (lupa!). Cuma selemparan batu dari kantor ku di Iskandarsyah I/16.

Kamarnya lembab. Dindingnya dingin, Cuma dikapur putih. Lantainya abu-abu kusam, layaknya lantai gudang. Luasnya? Tepatnya: Sempitnya = 2 x 2.4 meter. Isinya dipan+kasur dingin (sedingin lantai dan dindingnya), lemari reyot, rak TV bekas buat letakin radio ku yang selalu gagal menemukan frekwensi radio manapun.

Setiap hari, selalu ada at least 2 kecoa baru, berkeliaran dikamar. Entah dipintu lemari, atau didalam lemari. Kecoa Baru? Yupe…soalnya perasaan setiap pulang selalu ritual pertama ya mbunuhin kecoa-kecoa itu. Tapi besoknya, new generation has born again!.

Kamar mandinya tepat disebelah dinding kamar ku. Even worst than the room. Bak mandinya tidak punya lubang sumbat. Bisa dibayangkan gimana cara ngurasnya ya? Jentik jentik, atau yang mulai berubah jadi cacing-cacing mini, selalu melayang-layang diairnya yang (entah kenapa jernih banget itu). Plankton-plankton! Kalau mau mandi, aku harus nunggu sampai para zoo planton turun ke dasar GAYUNG, baru perlahan mulai ku guyur.

Jangan harap aku mau ke kamar mandi kalau kebelet malam. Dijamin akan ada kerumunan kecoa disitu. Ogah.

*

Aku malu ngajak temanku datang ke kost. Aku malu ketauan tinggal di gudang orang.

*

Di hari ultahku, 10 tahun lalu, aku sempat jalan-jalan ke Pasaraya Blok M. Niatnya jelas: Mau beli Es Campur di foodcourt. Panas-panas gini….wuenakkkk tenan. Aku jalan, nyebrang….turun ekskalator…sretttt……pilih2 counter, Gotcha: Es Campur harganya Rp 4500-an. MAHAL AMAT!!!! Itu bisa dapat makan siang di warung Pak De deket kantor. Aku langsung ngelipir………nyebrang lagi, menuju kantor, dan bikin….Es Tes Manis saja, even it was my birthday.

*

6 Febuary 2009.

I live much better now. Rumahku luasnya 37m2 (netto 30m2), dilantai 12, ditepi jalan raya pos pengumben. Kubeli dengan mencicil, tapi udah lunas setengahnya.

Lucunya, kalau 10 tahun lalu kamarku yang lembab itu tempat bersemayam kecoa….sekarang? Jangan harap!!! Paru paru kecoa, technically speaking, tidak akan sanggup melayang diketinggian lantai 12 sebuah apartemen. Ha! Ha! Ha!

Sekarang aku sudah bisa beli Es campur. Jangankan di Pasaraya, di Pasar-pasar lain juga bisa. Di hotel pun aku sanggup.

Ada kesamaan hari ini dan 10 tahun yang lalu.

Gajiku sama sama kena potong. Bedanya tahun ini karena kelebihan cuti setelah nungguin mak ku yang dirawat di Penang. Jumlahnya beda, prosentasenya mirip. Beda yang lain, 10 tahun lalu pemotongan itu ku kutuki karena bukan efek dari pilihanku. Aku tidak akan pernah milih Majalah D&R ditutup. Majalah itu bagus! Disana orang akan jadi wartawan yang sesungguhnya! Kenapa? Karena disitu wartawan dibentuk dari penolakan. Penolakan dari narasumber, dan penolakan dari nama majalahnya yang *norak* he he he.

Tahun ini gajiku dipotong karena aku melakukan sesuatu yang baik. Pilihanku. Aku AKAN dan SELALU AKAN memilih untuk menemani somebody that I care about, in hospital during their sickness no matter what the consequences is/are.

*

Hidup itu seperti Mozaik. Kepingan yang satu, tidak akan pernah berdiri sendiri tanpa kepingan yang lain.

10 tahun lalu aku BISA saja memilih jadi Bodrex. Wartawan yang kerjanya malakin narasumber. Namanya juga terancam PHK. But I did not do it. Lebih baik aku tinggal digudang lembab itu daripada nerima duit dari orang yang akan merendahkan martabatku, sesudahnya.

Kurasa Tuhan kagum melihat setiap tetes keringat, ide, terobosan, upaya dan kerja keras yang kulakukan buat mengubah hidupku. Hidupku bukan lompatan, tapi RANGKAK-an. Entah berapa penolakan kuterima sepanjang 10 tahun ini; yang pasti disetiap akhir penolakan….ketika justru aku ‘berhenti berusaha’, penawaran itu selalu datang cuma cuma. Entah berapa banyak kejutan dari Tuhan pernah kuterima sepanjang 10 tahun ini…He knows exactly how I loveeeeeeee surprise…..Thank You. Thank you.

*

Dua kali aku dapat beasiswa. Melbourne & Rotterdam. Aku jadi lulusan pertama di class of 2003/04/F&A/kampusku diBelanda,dengn nilai (waktu itu sih) tertinggi. he he.

*

Aku bangga denganku!! Semua yang kudapat, kudapat dengan keringatku, pikiranku, tanpa belas kasihan siapapun. Tidak sekalipun aku menjilat siapapun, kecuali Tuhan. Aku mau semua orang didunia ini TAU bahwa yang paling menyenangkan dari HIDUP adalah HIDUP itu sendiri. Misterinya…that you WILL NEVER know what will happen tomorrow!!!! That’s what keeps me alive. Karena aku TIDAK TAU, makanya aku punya harapan supaya yang terjadi itu SEPERTI yang kuharapkan.

*

23 Permohonan beasiswa S2-ku ditolak.Yang Ke-24 diterima.Bagaimana kalau aku tidak pernah mencoba yang ke 24? HOPE…..that helps me in keep trying.

*

Jalan hidup…….. :)

Lucunya justru perjalanan karir ku ku jalani dan ku tempa di majalah X, yang sedikit banyak bikin majalah D&R ditutup itu. God works in a mysterious way, isn’t it?

*

Namaku Febrina Melva Irene Siahaan

Umurku 36 tahun.

Diumur yang sebanyak ini, banyak yang sudah ku lakukan, tapi lebih banyak lagi yang BELUM . SUKSES sesungguhnya adalah jika TIAP TIAP HARI, yang kau lakukan adalah dalam rangka mencapai “BELUM”mu itu, bukan sekedar mengejar isi perutmu, atau sekadar menyenangkan hati orang lain.

Selamat Ulang Tahun Feby Keyreen…..I’m so DAMN PROUD of YOU!!!

Just Other’s Spare Time

February 5th, 2009, posted in Tak Berkategori

Hari ini genap seminggu gw semaput karena Tipus akut. Dua minggu lebih sejak pertama kena infeksi di rahang yang membuat gw ga bisa membuka mulut, dan tidak bisa makan makanan padat apapun.

In total, 3 minggu berada dititik nadir terendah.

I learn one thing.

Most of the time, we are just other’s spare time.

Terpikirkan (alias ga sengaja kepikiran) atau dipikirkan (sengaja diagendakan) diwaktu waktu luang.  Mungkin karena gw bukan orang yang suka mengexpose kesakitan, jadinya orang-orang (termasuk para suster) ga terlalu percaya gw sebenarnya udah kesakitan. Bayangin aja dia salah ngambil nadi, gw malah tereak nyanyi EBIET (- ya iya lah, gw teriak sakit….mereka selalu bilang “tahan yaaaa……”). But it’s okey.

Gw justru menikmati mengamati komentar komentar setiap teman, kerabat, atau apapun ketika mereka MENJANJIKAN akan datang menjenguk.

- Nanti kalau sempet gw liat ya…..

- Tadinya gw mau datang, tapi macet banget (gw yakin sebenarnya temen ini belum sempet juga membelokkan arah perjalannannya menuju RS)

- ……..ga bisa datang, tadinya sih mau datang,. karena bla bla…

- ……..jauh banget sih RS-nya, coba kalo……..

- ……..sampe kapan sih elo di RS? (kalau pertanyaan ini ga akan gw jawab. )

- Dirawat di rumah aja lah lo, biar bisa maen-maen (makk!)

Jujur, sangat menyebalkan mendengar excuse dari teman-teman yang sendirinya juga janji mau datang, sendirinya juga yang bikin excuse. Then Gone! Seakan akan ada ritualitas bahwa kalo ada temen sakit, well…at least you JUST tell them bahwa elo akan berusaha untuk datang. TAPI, realisasinya kalo pas ada waktu luang ya. Atau kalo kedatangan, mendatangkan sebuah output yang namanya FUN. There is nothing FUN in visiting a person in hospital. If you care, then come. If you are NOT, then don’t bother.

*

Dia Pokok Anggurku. aku ranting-Nya…

Finally, it is all that matter to me!

..and I, is all that matters to HIM.



Ada Apa Dengan Obama?

January 24th, 2009, posted in Tak Berkategori

Entah udah berapa kali pergantian Presiden AS, semasa gue hidup…….
Tapi baru kali ini ada pelantikan presidennya yang gue tunggu ampe terkantuk kantuk.
Dan,
suprise…suprise. It was not me, ONLY. But soooo many people, Indonesian, out there.
Lucu ya? Bukankah banyak orang ga seneng ama Amerika? So why in the world we care about Obama’s oath?….
Menurut gue (mungkin ini berlaku buat gue doang), karena Obama adalah representasi KU dan orang-orang biasa lain seperti KU.
Melihat Obama diambil sumpah sebagai penguasa negeri adi kuasa membuat KU dan orang-orang biasa seperti KU, memiliki harapan.
Harapan dan juga ‘peringatan’ bahwa: TIDAK ADA YANG MUSTAHIL di DUNIA INI.
Ke’hitam’an Obama adalah lambang kelemahan (karena minoritas), kekurangan (ya karena dia kurang PUTIH) dan ketidakberdayaan (karena dia ras budak).
So…if HE CAN, then WHY CAN’T I?????

Aku dan Biskwitku

January 19th, 2009, posted in Tak Berkategori

Ada yang bilang, when you love and care so damn much about some thing/body, maka kau akan bicara seperti seorang pujangga. Banyak kata-kata indah keluar dai bibirmu yang biasanya (mungkin) kelu dan kaku.

O ya?

I dont think so.

I can not find too many words to describe my biskwit.

What i do know is this:

“Biskwitku is sweet,
bahkan ketika dia pahit,bahkan teramat pahit.”

(***)

Sakit Gigi vs Sakit Hati

January 19th, 2009, posted in Tak Berkategori

Meggie Z, setelah bertahun-tahun baru ku mengerti komparasimu :)

Keknya uda lama banget lagu “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati” tuh nongol dikancah (uhuy..bhasanya) dunia permusikan. About 10 years probably. Tapi baru kemaren, gue bisa MEMBUAT pilihan atas opsi yang diberikan Om Meggie: Pilih sakit hati or sakit gigi (Btw, emang dia ngasi opsi? he he…prasaan dia sudah mengambil kesimpulan deeh. Yaa…what ever!!!)

Pertanyaannya, kenapa baru skarang gue bisa membuat pilihan? Gampang, soalnya baru kali ini dua opsi itu muncul dalam saat yang bersamaan. Biasanya mah, sakit gigi tok….ato sakit hati tok. But NOT This Time…

Begini ceritanya……..
Gigi bungsu gue, yang supposed to be diambil/dibedah berbulan-bulan lalu, bikin ulah. Ulah yang RUAR BIASA. Mestinya dia tumbuh ke bawah (krn posisinya dikiri atas). Eh, dia malah tumbuh 30 derajat ke samping, DAN melintir sehingga menembus gusi dan merobek dinding pipi. Kebayang kan sakitnya!!! sarafnya menclang-mencleng kesana-kemari, termasuk meringsek saraf dirahang pipi kiri gue.
Akibatnya? selain nyeri yang BUSETTTTT, rahang gw kaga bisa mangap. Bisa, tapi paling ni mulut bisa dimuka “Satu jari telunjuk” saja. So, jangan harap itu sendok makan+gundukan nasi bisa masuk. Apalagi cocolan tangan+nasiuduk+pecel lele. Jangan harap. Uda 4 hari bisanya cuma makan makanan cair (susu,bubur,jus). Badan mulai meriang, karena infeksi si saraf BUSETT itu, plus tidak ada asupan makanan bergizi yang cukup. OUTPUTNYA jelas: Gue SEMAPUT ampe KERIPUT kaya SIPUT.

But that’s not all, people…

Ternyata sakit 4 hari yang BUSET itu, is NOTHING dibanding sakitnya ketika somebody (that u always categorized as: The MOST..-most wanted,most care about,most taking care of…) hurt your feeling.Tepat dihari ke-4 kesakitan digigi gue ini. Ini bukan soal SARAF, cuma rangkaian kata-kata yg membuat sedih. Kata-kata itu tidak akan menimbulkan luka luar apapun, apalagi infeksi ditubuhmu….tapi langsung meninggalkan NANAH didalam hati. Dan NANAH itu tak perlu Masa Inkubasi seperti kuman infeksi. Dia terbentuk instant: dari telingamu, langsung menusuk ke jantungmu, menembus ulu hatimu.Kalau gigi gue butuh 4 hari sebelum gue bisa bilang:”Parahh ni sakit keknya”…..tapi sakit dihati happend at a glance. Sekedipan mata.

So, Om Meggie…..I must say I agree with you:
IF i have to choose……..biarlah gigiku saja yang sakit, asal hati dan jiwaku bebas dari kepahitan itu.