Ini kata yang murahan (sangkin seringnya didengar), tapi “sukarnya” luar biasa.
Semakin kupikir pikir, kurenung-renung, kurasa-rasa, ternyata SABAR ini bukan sekedar komat kamit mengelus dada, ketika menghadapi jalan di Jakarta yang makin kusut. SE-kusut rambut gimbal gembel gembel dikolong jembatan, atau SE-kusut raut wajah presidenku yang lagi pidato didepan tokoh tokoh agama semalam.
SABAR bukan sekedar kata diucapkan buat menghibur orang yang lagi kemalangan.
SABAR ini ternyata paling BESAR kuasanya ketika dikatakan pada DIRI SENDIRI, dan bukan pada orang lain. (Jangan katakan ”sabar” pada orang yang emosinya sedang dipuncak, karena cuma membuatmu seperti pahlawan kesiangan, atau seperti pe-basa-basi yang tidak bisa menemukan kata kata bijak lain yang lebih susah!Atau lebih ngeri lagi, dianggap ngga bisa merasakan kepedihan orang lain).
*
Sebuah literature mencatat:
’Patience is the state of endurance under difficult circumstances, which can mean persevering in the face of delay or provocation without acting on annoyance/anger in a negative way; or exhibiting forbearance when under strain, especially when faced with longer term difficulties.’
Aku suka frase “in the face of…..provocation” itu.
Pada literature yang sama ada miniature lukisan bertitel ‘Patience’ yang dibuat oleh Hans Beham (1540).
Digambarkan sesosok manusia bersayap, tengah memeluk seekor domba tak berdaya. Tapi sidomba tampak tenang, teduh, dalam pelukan Sang Manusia bersayap. Disebelahnya iblis, dengan raut mu-peng dan ngeces siap siap melahap sidomba. Diatas tampak dua malaekat kecil (mirip cupid) memegang mahkota bertuliskan ‘P a c i e n t i a’.
Dan, memang, P a c i e n t i a identik dengan ketenangan, sekalipun dalam situasi yang sangat tidak menenangkan.
*
Aku punya cara buat memanggil si Sabar ini.
Cara ini pertama tama kulakukan diumur 15-an, karena diusia itulah aku pertama kali harus meninggalkan rumah ber-ribu mil jauhnya dan merasakan harus menata diri, diatas kaki sendiri (bahasa kerennya: merantau!). Dan,kemudian, kudapati bahwa terlalu banyak hal hal yang tidak bisa dimengerti oleh anak umur 15-an, dimasa itu (anak 15-an sekarang, uda tuwir tuwir kayanya)
Dalam kesesakan, dan ketidakmengertian, ini yang selalu kulakukan sejak 23 tahun yang lalu: Menutup Mata, dan Menarik Napas. - Don’t know why, but it (most of the time) works for me.
Penjelasannya kurasa ngga susah. Menutup mata adalah tindakan simbolik menjauhkan diri dari hal hal provokatif yang ada disekitar kita. (Dan terbukti ada banyak hal provokatif yang bisa dihindari dengan ‘tidak melihat sesuatu’. BANYAK sekali. Tulisan2 yang provokatif misalnya entah itu dikoran,web,fb,BB,emai atau foto/gambar/wajah/dll yang mengundang amarah)
Menarik nafas?
Aku punya penjelasan sendiri, yang mungkin agak terdengar bodoh.
Aku percaya nafasku adalah Roh Tuhan. (He breathed into my nostrils the breath of life, and I became a living soul). Dan ketika aku menutup mata dan menarik nafas dalam dalam…begitu dalam menembus paru paru hingga masuk jauh kedalam jiwa, aku merasa seperti menyerap lebih banyak lagi Roh Tuhan; melipatgandakan my level of endurance, my level of patience.
*
That literature also state that: patience is the level of endurance one’s character can take before negativity. It is also used to refer to the character trait of being steadfast, or whicy you can wait for things.
(end)